Sepak Bola yang Menyulut Perang di Yugoslavia

Kericuhan di Maksimir Stadium pada pertandingan antara Dinamo Zagreb dan Red Star Belgrade, 13 Mei 1990. Sumber gambar: static.wixstatic.com

Kematian Josip Broz Tito pada 1980 tampaknya bukan saja telah meninggalkan kedukaan yang mendalam bagi rakyatnya, tapi juga perlahan menyulut ‘api’ di Yugoslavia. Sebagai pemimpin pemberontakan komunis dalam melawan Nazi pada Perang Dunia II sekaligus pemersatu negara multi etnis itu, kepergiannya membuka kembali bara kebencian antar etnis yang telah digenggam dan dipadamkan oleh tangan besi Tito selama puluhan tahun memimpin. Kepergiannya mengawali krisis politik dan ekonomi, konflik etnis, dan puncaknya adalah perang Balkan yang mengerikan.

Krisis yang melanda Yugoslavia paska kematian sang ‘kamerad’ itu mulanya disebabkan oleh konflik etnis akibat kelihangan figur pemersatu mereka, sementara para elit politikus tidak hentinya mengobarkan api kebencian berbalut rasial. Segregasi sosial yang menyulut konflik etnis membuat rakyat Yugoslavia seperti terjebak di ruang sempit dan tidak bisa menghindar untuk mencium aroma kebencian terhadap saudaranya sendiri. Ejekan-ejekan bernada kebencian antar etnis dan kericuhan adalah pemandangan yang mulai wajar ditemui di segala tempat, tidak terkecuali di stadion sepak bola.

Ðordević dan Žikić (2016) menyebut bahwa krisi ekonomi dan politik di Yugoslavia pada 1990-an turut mengubah lanskap sepak bola di sana. Stadion-stadion sepak bola di seluruh negeri berubah menjadi tempat menyuarakan nyanyian-nyanyian kebencian oleh kelompok supporter yang pada saat itu telah banyak ditunggangi oleh kepentingan politikus nasional. Salah satu rivalitas klub sepak bola di Yugoslavia yang memanas akibat konlik politik pada saat itu adalah antara klub Dinamo Zagreb (Kroasia) dan Red Star Belgrade (Serbia).

Pada 22 dan 23 April 1990, partai Hrvatska Demokratska Zajednica (HDZ) pimpinan Franjo Tudjman memenangkan pemilu parlemen Republik Sosialis Kroasia. Franjo Tudjman adalah politikus yang paling kencang menyuarakan kemerdekaan Kroasia dari Yugoslavia (pada akhirnya Franjo Tudjman berhasil memimpin kemerdekaan Kroasia atas Yugoslavia pada 1991). Bahkan Tudjman tidak segan membangkitkan kembali simbol-simbol ultranasionalisme dan fasisme Kroasia. Ambisi Tudjman itu ditentang habis-habisan oleh Slobodan Milosevis, pemimpin Serbia yang menginginkan agar Yugoslavia didominasi dan dikuasai oleh etnis Serbia.

Pada 13 Mei 1990, sebuah pertandingan sepak bola antara Dinamo Zagreb dan Red Star Belgrade dijadwalkan berlangsung di Maksimir Stadium, Zagreb, Kroasia. Siapapun bisa menduga bahwa pertandingan antara klub dari Kroasia dan Serbia di tengah konflik politik itu akan berlangsung panas. Namun, pertandingan itu rupanya tidak saja berlangsung penuh dengan konflik supporter, tapi juga akan mengubah wajah sepak bola dan politik Yugsolavia selamanya.

Kericuhan di dalam stadion telah dimulai bahkan ketika wasit baru meniup peluit awal pertandingan. Kelompok supporter Red Star Belgrade, Delije, terprovokasi oleh lemparan batu dari supporter Dinamo Zagreb, Bad Blue Boys. Mereka mulai membalas lemparan batu, merusak papan iklan, bahkan mendekat kea rah tribun yang dihuni oleh Bad Blue Boys.

Delije kemudian menyanyikan lagu-lagu yang berisi slogan-slogan nasionalis untuk memprovokasi balik Bad Blue Boys seperti: “Zagreb adalah Serbia” hingga nyanyian “Kami akan membunuh Tudjman”. Situasi di dalam stadion kemudian menjadi chaos dan terjadilah sebuah momen yang akan dikenang selamanya dalam ingatan publik. Kapten Dinamo Zagreb, Zvonomir Boban, menendang seorang polisi yang berusaha memukul suporter Dinamo. Kejadian itu hingga kini dikenang dengan sebutan “A kick that started the war”, atau “sebuah tendangan yang memulai perang”.

Zvonomir Boban menendang Polisi Yugoslavia dalam kericuhan di pertandingan antara Dinamo Zagreb vs Red Star Belgrade di Maksimir Stadium, 13 Mei 1990. Sumber gambar: thesefootballtimes.co

Kerusuhan di Maksimir Stadium itu membawa implikasi yang jauh lebih besar daripada sebatas urusan sepak bola. Franjo Tudjman memanfaatkan kejadian kerusuhan di stadion Maksimir itu sebagai sebuah propaganda politik. Ketika akhirnya Kroasia di bawah kepemimpinan Tudjman mendeklarasikan kemerdekaan atas Yugoslavia, Slobodan Milosevic sebagai pemimpin Serbia tak tahan ingin melakukan penyerangan secara militer ke Kroasia. Akan tetapi, karena tidak memiliki militer yang memadai, Milosevic kemudian memerintahkan wajib militer.

Pemberontakan oleh rakyat terhadap kebijakan itu membuat perintah wajib militer berakhir dengan kegagalan. Milosevic tidak kehabisan akal dengan kemudian membentuk organisasi paramiliter dari kelompok suporter Red Star Belgrade, Delije, di bawah kepemimpinan Zeliko Raznatovic atau Arkan. Slobodan Milosevic sendiri saat itu adalah salah satu petinggi di klub Red Star Belgrade, sehingga tidak sulit baginya untuk mengendalikan klub dan suporternya.

Perang Balkan pun pecah pada 1991, dimana pasukan Delije di bawah kepemimpinan Arkan yang mengubah nama menjadi Arkan’s Tiger menyerang Sasina, Bosnia, di mana pasukan tersebut diduga menculik laki-laki Muslim Serbia hingga membantai mereka. Perang Balkan itu telah membuat Arkan dicap sebagai seorang penjahat perang. Namun, bagi orang Serbia, Arkan adalah pahlawan.

Zeliko Raznatovic atau Arkan, pemimpin pasukan paramiliter Arkan’s Tiger di Perang Balkan. Sumber gambar: balkaninsight.com

Kini Yugoslavia telah bubar, Kroasia dan Serbia telah menjadi negara sendiri-sendiri begitupun dengan liga sepak bola nasional mereka, yang membuat Dinamo Zagreb dan Red Star Belgrade tidak mungkin lagi bertemu dalam pertandingan di liga lokal yang sama. Meski begitu, kericuhan 13 Mei 1990 di Maksimir Stadium itu akan selalu dikenang bukan saja karena tendangan Boban itu telah “memulai sebuah perang”, namun juga menunjukkan bahwa sepak bola, seberapapun keras kita menolak mengakui, memang akan selalu memiliki kekuatan politik karena di dalamnya orang-orang kerap kali mencintainya bukan karena mereka ingin menonton permainan menendang bola, tapi juga karena sesuatu yang mereka sebut sebagai sebuah identitas.

Sepak bola adalah tempat di mana orang-orang dapat menunjukkan siapa diri mereka. Bahwa apa yang melekat di dada mereka itu bukan hanya gambar melainkan representasi dari darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Bahwa jika identitas itu direndahkan dan diinjak-injak, maka yang tumbuh dan bangkit kemudian hanyalah perlawanan.

Referensi:

Ðordević, I., & Žikić, B. (2016). Normalising Political Relations through Football: the Case of Croatia and Serbia (1990–2013). In A. Schwell, N. Szogs, M. Z. Kowalska, & M. Buchowski, New Ethnographies of Football in Europe (pp. 39–55). Hampshire: Palgrave Macmillan.

Džidić, D., Dzidic, D., Ristic, M., Domanovic, M., Çollaku, P., & Milekic, S. (2014, December 8). Arkan’s Paramilitaries: Tigers Who Escaped Justice. Retrieved April 27, 2022, from Balkan Transnational Justice: https://balkaninsight.com/2014/12/08/arkan-s-paramilitaries-tigers-who-escaped-justice/

Gault, M. (2015, September 28). Zvonimir Boban and The Kick That Started A War. Retrieved April 27, 2022, from These Football Times: https://thesefootballtimes.co/2015/09/28/zvonimir-boban-and-the-kick-that-started-a-war/

--

--

I wish I was a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every night

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Dimas Ajie

I wish I was a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every night