Politik Tidak Hitam-Putih, dan Kita Buta Warna

“Jangan percaya politisi” adalah nasihat sangat sederhana, yang karena kesombongan akibat terlalu menikmati arus politik, sering kita lupa dan tidak acuh. Seberapa pun sering kita dibohongi oleh mereka, kita selalu punya harapan lagi dan lagi.

Rasanya tidak ada tahun-tahun yang kita lewati tanpa mengutuk para politisi atas kebobrokan kerja mereka, tanpa sadar bahwa mereka duduk di sana karena ada (kita) yang memilih.

Politisi memang sering bertingkah bodoh, tapi kita tidak selalu lebih pintar. Kita yang bodoh, rela sepenuh hati dibodohi, dan karena menelan mentah-mentah janji politisi menjadikan kita tidak pernah sadar setiap waktu menelan kebodohan sendiri. Akuilah.

Memangnya apa yang bisa kita harapkan dari seorang pahlawan kesiangan yang lima tahun sekali mendaku diri sebagai malaikat pengentas kemiskinan?

Memang topeng religiusitas, pembela wong cilik atau bocah-bocah bau kencur tapi bermuka ganteng sering kali memukau. Tapi apakah jika kita kesal kemudian menuding mereka ‘ganteng-ganteng pembohong’ atau ‘alim-alim koruptor’ lantas membuat mereka malu? Barangkali iya, tapi soal nasibmu yang melarat sepanjang hidup atau kebingunganmu soal besok mau makan apa mana mungkin mereka mau peduli.

Ini bukan soal apakah seorang politisi adalah orang baik atau jahat. Politik tidak melulu soal menjustifikasi satu pihak sebagai yang paling buruk daripada yang lain.

Sesuatu yang sering kita lupa adalah bahwa siapa pun di dunia ini, termasuk para politisi, selalu bertindak atas dasar kepentingan. Masalahnya adalah kepentingan politisi tidak selalu tentang apakah malam ini rakyat bisa tidur nyenyak atau tidak.

Soal siapa yang punya lebih banyak ijazah dan piala di lemari, barangkali kita kalah. Namun soal kepentingan, mereka sama saja dengan kita yang hidupnya tidak pernah paripurna menumpuk kekayaan.

Pragmatisme politik memang bukan kejahatan. Ini adalah fenomena yang melanda semua pihak, tidak hanya politisi. Semua orang punya kecenderungan pragmatis di balik meja kekuasaan (Serius, memangnya masih ada yang percaya bahwa politisi bekerja sepenuhnya demi rakyat?)

Lagi pula, gagasan ideal tentang politik sebagai jalan menuju ‘kesejahteraan bersama’ pasti sudah disimpan rapat di bawah tumpukan bantal. Akan dihafalkan lagi lima tahun mendatang menjelang kampanye. Jangan tanyakan politisi soal gagasan ‘kesejahteraan bersama’, mereka hanya akan menghiburmu dengan dongeng berjudul “Visi dan Misi saya jika terpilih nanti”.

Sarjana ilmu politik yang masih menghamba pada gagasan ‘kesejahteraan bersama’ itu, ia sudah beruntung jika hanya menjadi objek tertawaan, karena seharusnya ia sudah ditampar mukanya berkali-kali.

Percayalah, tidak ada malaikat dalam politik. Visi-Misi pencalonan berisi kata-kata mutiara itu, kalian juga bisa membuat. Hanya saja mereka punya panggung lebih luas dan pengeras suara yang lebih kencang untuk membohongi lebih banyak orang.

Apakah percaya pada politisi adalah sebuah kesalahan? Tentu tidak. Akan tetapi, ditipu berkali-kali selama bertahun-tahun bukan lagi soal salah atau benar.

Bahwa tidak semua politisi pembohong, kita bisa sepakat. Tapi apa jaminannya bahwa politisi yang kita dukung adalah sosok yang jujur? Adakah jaminannya bahwa meskipun mereka berkampanye dengan membawa cangkul di pundak akan membuatnya memahami penderitaan petani yang harga panennya dipermainkan tengkulak.

Rasanya klise sekali menyinggung soal moral ketika membahas politik, sementara bagi politisi urusan moral menjadi tidak lebih seperti kacang yang dijual di pasar — ada, dicintai, tapi tetap saja hanya akan jadi barang dagangan.

Sebenarnya, menyalahkan politisi atas kedangkalan mereka memahami keresahan rakyat juga bukan sesuatu yang sepenuhnya tepat. Ketidakbecusan mereka seharusnya bisa dilihat sejak awal. Hanya saja kita tidak punya pihak lain untuk dihakimi sementara ego kita terlalu tebal untuk mengakui bahwa kita juga punya andil atas semua kebobrokan politik semacam ini.

Kadang kala, para politisi pun tidak selalu punya kuasa penuh atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Kekuasaan tidak selalu tentang siapa yang membawa tongkat komando. Ada ruang gelap yang dibatasi tembok tebal tempat oligarki bercokol memangku koper uang. Selama mereka punya kekuasaan lebih besar, pejabat hanya akan menjadi tukang stempel.

Layar buram politik ini memang tidak disadari dan dilihat semua pihak, apalagi untuk mereka yang bahkan tidak mampu untuk mendaki kelas sosial sampai ke puncak.

Politik, sebagaimana kehidupan, bukanlah siaran televisi hitam putih atau sinetron berisi tokoh baik yang ditindas oleh si tokoh jahat. Memang akan menjadi sulit sekali melawan nurani untuk mengakui bahwa seorang penghafal kitab suci sekalipun, misalnya, selalu punya kesempatan yang sama besarnya dengan begundal untuk menjadi koruptor.

Tapi dalam politik hari ini, hampir tidak ada lagi pengaruh kealiman beragama terhadap kinerja. Sudah tidak ada lagi artinya sumpah jabatan atas nama Tuhan. Tuhan dan kesuciannya sudah diobral di lapangan kampanye dan poster ‘amanah rakyat’ yang dipaku di pohon lalu masuk keranjang sampah.

Kita selalu tertipu, ditipu lagi, dan lagi-lagi lebih suka menolak mengakui kesalahan sendiri.

--

--

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Dimas Ajie

Dimas Ajie

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights