Motor Shogun

Mestinya kita akui saja, bahwa satu-satunya yang tidak bisa kita lawan adalah keraguan kita sendiri. Dengan begitu, kita tidak perlu menyalahkan waktu atas kesialan cinta yang menimpa kita.

Gang sempit di depan kosmu yang cat putihnya mulai pudar itu selalu remang dan datar. Yang kuingat adalah sekotak terang bulan strawberry di teras yang baru kita makan separuh. Kau tertawa menyaksikan kita tidak berdaya sekali lagi melawan air mata saat pedagang pentol itu lewat. Mengapa kita harus menyembunyikan rasa, pikirmu.

Kau bisa memilih untuk tidak dibonceng ke kampus dengan Shogun rongsok yang lampu depannya sekarat. Kau memilih menikmati pecel lele tujuh ribu saat kau bisa memesan lewat ponselmu apapun yang seharga sisa uang di dompetku untuk seminggu ke depan. Kau memilih kemelaratan ini secara cuma-cuma.

Kupikir cinta hanya butuh dua orang yang mau memahami satu sama lain. Tapi rupanya ia jadi rumit ketika kita sibuk mengira apakah perasaan rindu yang kita hadapi saban malam lewat telepon akan mampu menampung kelelahan kita melawan tembok tebal itu.

Menyerah adalah jalan pengecut yang bahkan lebih baik daripada kita menipu diri sendiri. Maksudku, bisakah kita berterus terang saja bahwa kita hanya sedang jatuh cinta, dan karenanya kau pikir warung nasi rames di belakang kampus itu sama menyenangkannya dengan restoran ayam favoritmu.

Aku benci harus menangisi cinta lagi seperti remaja yang cengeng. Saat kurapikan anak-anak rambut di telingamu, aku membayangkan bagimana jadinya hubungan konyol seperti ini akan berjalan. Saat itu pula aku merasa kita semua berhak menjadi anak-anak di hadapan cinta.

Kau mulai ragu juga, rupanya. Memintaku berhenti menjemputmu setiap pagi dengan alasan tidak ingin merepotkan. Kau tahu aku tidak pernah merasa repot. Tapi aku lebih tahu bahwa kau mulai mereka jarak. Memang mestinya kau tidak perlu lagi kepanasan di jalanan hanya untuk membuktikan cinta.

Maaf, aku tidak bisa datang saat terakhir kali kau minta aku menemuimu malam itu. Motor brengsek ini belum ganti oli.

--

--

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Dimas Ajie

Dimas Ajie

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights