Sepak Bola dan Cinta yang Tak Melulu Soal Mengapa

Ada satu ungkapan paling klise dalam sepak bola, bahwa menjadi fans sebuah klub adalah sepenuhnya tentang cinta. Namun, apa alasan mencintai dan mengapa harus sepak bola? Banyak yang mengaku tidak memahami perasaan yang tumbuh dalam diri mereka sendiri, sebagian mampu mengerti, tapi lebih banyak lagi yang tidak peduli.

Bagi mereka yang tidak peduli tentang mengapa mereka mencintai sepak bola, alasan dan teori hanyalah omong kosong belaka. Mereka hanya mengerti bahwa sepak bola adalah tempat semua hal bergerak secara ajaib. Sepak bola adalah tempat kebahagiaan dan penderitaan meletup-letup indah dan menggetarkan seperti kehidupan itu sendiri, dan karenanya mereka berdiri di sana.

Mencintai sepak bola adalah perasaan yang misterius. Bagaimana mungkin kita bisa mengikrarkan cinta pada sebuah klub sepak bola yang jaraknya ratusan atau ribuan kilometer jauhnya, yang bahkan tidak mewakili secuilpun identitas kita sebagai manusia.

Namun, begitulah adanya. Panggung megah sepak bola memang bukan hanya milik mereka yang ada di kursi penonton stadion. Mereka yang jauh di pelosok dunia dan sudut bumi paling asing sekalipun memiliki perasaan yang sama untuk turut bersorak dan berbagi air mata.

Sepak bola bukan urusan remeh-temeh bagi yang mencintainya. Ini adalah tentang bagaimana sebuah identitas yang terwakili di lapangan atau hal sesederhana ingatan masa kecil tentang pengalaman pertama menonton klub idola di ruang tamu dapat tumbuh menjadi cinta sampai mati .

Mencintai sepak bola mengekspos sisi hidup yang ajaib dan menunjukkan betapa perasaan manusia adalah konstelasi yang rumit. Untuk menunjukkan itu, Michał Buchowski (2016) lebih senang menganggap sepak bola selayaknya “ritual” yang di dalamnya mengalir dua arus yang kontradikif; formalitas dan spontanitas.

Sepak bola mempersembahkan pertunjukan berbalut aturan teknis serta taktik-taktik permainan. Di arus yang lain, penonton memuja para pemain yang menunjukkan skil ajaib seperti Van Gogh menyihir kanvas menjadi mahakarya.

Pertandingan sepak bola membawa penonton yang ada di dalam dan di luar stadion ke sebuah acara selayaknya kebaktian atau ritual keagamaan; mengangkat tangan, menyanyikan lagu, teriakan slogan, dan bahkan melompat (Bomberger, 1995).

Sepakbola telah jauh berkembang dari sekadar permainan menendang bola untuk mencetak gol menjadi pertarungan identitas sosial kolektif di mana gengsi, kepercayaan, dan harga diri dipertaruhkan.

Tidak mengherankan jika seorang fans mau begadang menoton pertandingan jam 3 pagi, berteriak sampai leher berurat, bahkan memaki fans rival di media sosial. Semua itu rela mereka lakukan sekalipun menghadapi risiko stres dan darah tinggi. Namun, mengingat banyak orang yang juga rela bertaruh nyawa demi kekasihnya, boleh kita anggap fans sepak bola bukan korban cinta yang paling menderita.

Marilah kita tetap bersepakat bahwa sepak bola bukan sesuatu yang paling penting di dunia ini, sekaligus memaklumi bahwa memang tidak melulu ada alasan masuk akal untuk menjadikannya cinta seumur hidup. Cinta yang dengannya kita persetan dengan alasan dan teori yang hitam dan putih. Kita tidak peduli, lantas membiarkan semuanya tetap menjadi abu-abu.

Karena begitulah kehidupan berjalan, begitulah seharusnya cinta, begitulah sepak bola.

"Begitu besar cinta, begitu singkat waktu, begitu besar kecewa, lalu tak ada hal selain menunggu pertandingan berikutnya, lalu bergembira lagi.
Sepak bola adalah satu-satunya cinta yang tak bersyarat di dunia ini."

— Andrea Hirata, Sebelas Patriot

Referensi:

  1. Bomberger. (1995) “Football as World-view and As Ritual”, French Cultural Studies, Vol. 6, pp. 293–311.
  2. Michał Buchowski, et. al. (2016) “People, Passion, and Much More: The Anthropology of Football”, New Ethnographies of Football in Europe; People, Passion, Politics. 1, pp. 1–17

--

--

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Dimas Ajie

Dimas Ajie

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights