Memperdebatkan Sekularisasi

Hari ini, tujuh abad pasca Renaisans menyebar dari Eropa, para intelektual dan orang-orang masih terus berdebat tentang bagaimana agama semestinya ditempatkan di ruang publik.

Comte, Spencer, Marx dan Weber pernah begitu percaya diri bahwa akan datang masanya di mana agama bukanlah sesuatu yang penting dan tidak akan mendapatkan ruang untuk berjalan bersamaan dengan masyarakat yang terindustrialisasi. Bahkan hingga abad ke-20, teori ‘kematian agama’ itu masih diyakini secara luas sebagai sebuah teori tunggal.

Teori ‘kematian agama’ itu kini mulai banyak mendapatkan kritik dan perlawanan secara intelektual. Agama hari ini bukan saja masih bertahan dan tidak mati sebagaimana pernah begitu diyakini, namun juga menunjukkan kebangkitan jika dilihat dari data di beberapa belahan dunia yang menunjukkan adanya peningkatan kehadiran orang-orang di rumah ibadah. Tidak hanya itu, berbagai gerakan keagamaan pun bermunculan seperti fundamentalisme dan partai keagamaan di dunia Islam, spiritualitas New Age di Eropa, hingga berbagai konflik antar agama di seluruh penjuru dunia.

Agaknya terlalu dini jika kita menganggap bahwa apa yang dikatakan Comte, Marx, dan Weber tentang memudarnya agama di masyarakat industri adalah sepenuhnya salah. Terdapat beberapa aspek yang menunjukkan kebenaran dalam klaim teori tersebut di mana terdapat fenomena memudarnya religiusitas di sebagian masyarakat industri maju. Akan tetapi, teori tersebut memang memerlukan pembaruan mengingat terdapat pula fenomena di beberapa masyarakat di berbagai belahan dunia yang justru menunjukkan meningkatnya religiusitas selama beeberapa dekade terakhir.

Selama ini, perdebatan tentang apakah secara umum dunia lebih sekuler atau tidak seringkali terlalu mengeneralisir dengan terlalu berpusat pada fenomena yang terjadi di Eropa atau Barat pada umumnya serta melupakan belahan dunia lain dengan konteks dan latar belakang masyarakat yang beragam berkaitan dengan kondisi sosial, politik dan ekonomi.

Sebenarnya terdapat beberapa perspektif dalam melihat faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan sekularisasi. Akan tetapi, fokus dalam tulisan ini adalah mengenai keamanan eksisteensial yang memengaruhi bagaimana masyarakat memandang dan menempatkan agama dalam dirinya.

Keamanan eksistensial dijelaskan sebagai sebuah kondisi tentang seberapa aman seorang individu dari risiko-risiko yang mengancam kesejahteraan kehidupan. Awalnya, gagasan tersebut hanya ada dalam kerangka yang sempit di mana ancaman terhadap keamanan eksistensial hanya berupa keterlindungan teritorial dari serangan negara lain. Namun, definisi keamanan eeksistensial meluas seiring dengan kompleksnya permasalahan hidup dan konflik yang hadir di masyarakat seperti bencana alam seperti gempa bumi, banjir, topan, kekeringan, endemi, kemiskinan, dan pelanggaran HAM.

Terdapat kecenderungan di mana semakin tinggi tingkat perekonomian suatu masyarakat, semakin terpenuhi kebutuhan eksistensialnya, maka akan semakin kurang religius masyarakat tersebut. Namun, Sekularisasi adalah sebuah kecenderungan dan bukan sebuah hukum besi. Penyimpangan terhadap teori itu bukan saja menghasilkan pengecualian jika dilihat semakin mikro pada skala individu.

Orang-orang yang mengalami ancaman terhadap keamanan eksistensial selama masa perkembangan mereka baik itu yang bersifat ego-tropik (mengancam diri dan keluarga) maupun yang bersifat sosio-tropik (mengancam komunitas) memiliki kecenderungan untuk lebih religius dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di lingkungan yang lebih aman dan nyaman.

Di masyarakat industrial maju seperti di Eropa di mana masyarakatnya memiliki tingkat keamanan eksistensial yang tinggi, agama memang tidak hilang sama sekali bahkan masih banyak masyarakat yang mengaku berkeyakinan terhadap Tuhan maupun mengafiliasikan diri mereka terhadap agama tertentu. Akan tetapi, dalam masyarakat seperti ini, pengaruh agama terhadap bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari telah memudar.

Terdapat bukti kuat mengenai sekularisasi di beberapa negara industrialisasi maju seperti di Prancis, Swedia, Kanada, Inggris dan Australia di mana gereja melaporkan bahwa tempat-tempat di mana dahulu orang-rang terbiasa berkumpul guna melaksanakan ibadah Sabbath, kini kekurangan jamaah. Akan tetapi, meskipun di negara-negara industrial maju menunjukkan adanya kecenderungan sekularisasi, dunia secara umum sebenarnya tidak berarti kurang religius. Negara-negara kaya memang menujukkan adanya penurunan rekigiusitas dan mengara ke sekuler selama 50 tahun terakhir. Akan tetapi, justru secara umum lebih banyak orang-orang yang berpandangan keagamaan tradisional dan kelompok ini adalah bagian populasi dunia yang terus meningkat.

Mengenai kecenderungan ke arah sekuler pada negara-negara industrial maju, Amerika Serikat adalah sebuah anomali. Di Amerika Serikat, peran agama masih penting jika dibandingkan dengan bagaimana yang terjadi di Eropa. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan menunjukkan realitas sosial dan ekonomi di Amerika Serikat di mana negara tersebut memiliki ketimpangan ekonomi dan banyak penduduk miskin serta jaminan sosial yang sangat rendah jika dibandingkan dengan Eropa. Intinya adalah, agama tetap menjadi sesuatu yang penting di Amerika Serikat sebagai negara maju karena ketidakamanan eksistensial yang juga masih besar.

Pandangan klasik mengenai agama yang akan semakin memudar hingga mati memang memiliki banyak kelemahan terbukti dengan bagaimana agama hingga hari ini tetap memiliki tempat dan peran yang penting di banyak masyarakat. Namun, pandangan klasik tersebut tidak sepenuhnya salah karena terbukti di negara-negara dengan industri maju, statistik menunjukkan kehadiran masyarakat di tempat ibadah yang semakin menurun selama 50 tahun terakhir dan tidak lagi siginifaknnya agama terhadap kehidupan masyarakat. Amerika Serikat tetap menjadi anomali karena meskipun merupakan negara industri maju, ketimpangan sosial dan ekonomi sangat besar.

Akan tetapi, secara umum sebenarnya dunia saat ini lebih cenderung religius jika dilihat dari cepatnya pertumbuhan populasi masyarakat yang memegang keyakinan agama secara tradisional. Sementara laju populasi di Barat, yang memiliki kecenderungan ke arah yang lebih sekuler, mengalami stagnasi

Referensi

Norris, P., & Ronald, I. (2009). Sekularisasi Ditinjau Kembali. Tangerang: Pustaka Alvabet

--

--

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Dimas Ajie

Dimas Ajie

I wish I were a decent storyteller you could imagine how wonderfull ships that sails on my bedroom every midnights